JAKARTA, (Kabaristana.com) | Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran. Situasi ini menarik perhatian dunia karena sejumlah sekutu tradisional Amerika mulai menunjukkan sikap lebih hati-hati terhadap konflik tersebut.
Berbeda dengan konflik sebelumnya, dukungan internasional terhadap langkah militer Washington terlihat tidak terlalu kuat.
Dukungan Sekutu Mulai Terbatas
Beberapa negara sekutu Amerika Serikat memilih membatasi keterlibatan mereka. Inggris hanya mengizinkan pesawat tempur Amerika menggunakan dua pangkalan militernya untuk kepentingan pertahanan di kawasan.
Spanyol bahkan menolak memberikan akses pangkalan militer bagi pasukan Amerika Serikat. Perdana Menteri Pedro Sanchez menegaskan bahwa konflik tersebut bukan bagian dari kepentingan negaranya.
Sikap ini memicu ketegangan diplomatik. Presiden AS Donald Trump mengkritik keputusan tersebut dan mengancam langkah ekonomi terhadap pemerintah Spanyol.
Kritik terhadap Kebijakan Luar Negeri AS
Sejumlah analis menilai langkah militer Amerika terhadap Iran memperkuat kritik internasional. Pengamat dari German Marshall Fund, Kristina Kausch, menilai kebijakan tersebut memberi kesan bahwa Washington mengabaikan hukum internasional.
Menurutnya, kebijakan luar negeri Amerika kini lebih menekankan kepentingan nasional dibanding membangun legitimasi global.
Kontroversi lain juga muncul dari kebijakan sebelumnya. Trump sempat memicu perdebatan setelah menyampaikan keinginan mengambil alih Greenland, wilayah milik Denmark yang merupakan sekutu NATO.
Peran Lembaga Internasional Dipertanyakan
Mantan pejabat keamanan nasional Amerika Serikat, Nadia Schadlow, menilai konflik Iran menunjukkan keterbatasan lembaga internasional. Menurutnya, organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa sering kesulitan mencegah konflik bersenjata.
Ia menilai banyak negara tetap mengambil keputusan sendiri saat merasa keamanan nasionalnya terancam.
Sikap Beragam Negara Sekutu
Meski sebagian negara berhati-hati, beberapa pemerintah tetap menyatakan dukungan. Australia, Argentina, dan Paraguay termasuk negara yang mendukung langkah Amerika Serikat.
Kanada mengambil posisi lebih moderat. Perdana Menteri Mark Carney mendukung upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir, namun tetap mendorong deeskalasi konflik.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pandangan berbeda. Ia menilai serangan militer terhadap Iran berpotensi melanggar hukum internasional.
Potensi Keuntungan Strategis bagi China
Sebagian analis menilai konflik ini dapat memberi dampak strategis global. Peneliti Center for a New American Security, Jacob Stokes, menyebut perang di Timur Tengah dapat menguras persediaan senjata Amerika.
Padahal, persediaan tersebut penting untuk menghadapi potensi konflik di kawasan Asia Timur, terutama terkait Taiwan.
Stokes juga menilai China dapat memanfaatkan situasi ini untuk mempelajari strategi militer Amerika. Jika konflik berlangsung lama, posisi geopolitik Washington bisa semakin tertekan.




Saat ini belum ada komentar