Krisis Timur Tengah Picu Ancaman Kelaparan Global, 45 Juta Orang Terancam
- account_circle Rahman
- calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
- visibility 149
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Warga berkumpul untuk melihat kerusakan setelah Iran melancarkan serangan rudal di Bnei Brak, Israel, Minggu (8/3/2026)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Kabaristana.com) | Konflik yang terus memanas di Timur Tengah kini mendorong ancaman kelaparan global. World Food Programme (WFP) memperingatkan bahwa hingga 45 juta orang tambahan bisa jatuh ke kondisi rawan pangan akut jika konflik berlanjut dan harga energi tetap tinggi.
Selain itu, angka tersebut akan menambah sekitar 318 juta orang yang saat ini sudah menghadapi krisis pangan di berbagai wilayah dunia. Dengan demikian, tekanan terhadap sistem pangan global semakin meningkat.
Dampak Harga Energi ke Pangan
Kenaikan harga energi langsung mendorong lonjakan harga pangan. Sebab, produsen dan distributor harus menanggung biaya produksi dan logistik yang lebih tinggi. Akibatnya, harga bahan pokok naik dengan cepat, sementara penurunannya cenderung lambat.
Kondisi ini pun mengingatkan dunia pada krisis 2022 saat perang Rusia-Ukraina memicu lonjakan biaya hidup global. Oleh karena itu, banyak pihak kini mewaspadai pola yang sama.
Sementara itu, Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menegaskan bahwa situasi ini bisa berubah menjadi bencana besar jika dunia tidak segera merespons.
Ia menilai keluarga rentan akan menghadapi tekanan paling berat. Bahkan, banyak keluarga yang sebelumnya mampu membeli makanan kini mulai kehilangan daya beli. Dengan kata lain, krisis ini bergerak cepat dan meluas.
Gangguan Jalur Perdagangan Dunia
Di sisi lain, konflik juga mengganggu jalur perdagangan global. Ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah meningkatkan risiko pelayaran serta biaya pengiriman.
Akibatnya, harga energi, pupuk, dan bahan baku ikut melonjak. Selain itu, gangguan ini menciptakan efek domino yang memperluas dampak krisis hingga ke luar kawasan konflik.
Selanjutnya, WFP mencatat bahwa Afrika sub-Sahara dan Asia menjadi wilayah paling rentan. Hal ini terjadi karena banyak negara di kawasan tersebut bergantung pada impor pangan dan energi.
Sebagai gambaran, kerawanan pangan diperkirakan meningkat 21% di Afrika Barat dan Tengah, 17% di Afrika Timur dan Selatan, serta 24% di Asia.
Di Sudan, misalnya, masyarakat sangat bergantung pada impor gandum. Sementara itu, di Somalia, harga bahan pokok sudah melonjak tajam di tengah kekeringan berkepanjangan.
Keterbatasan Bantuan Jadi Tantangan
Namun demikian, upaya bantuan menghadapi kendala besar. WFP kini mengalami kekurangan pendanaan sehingga harus membatasi distribusi bantuan.
Akibatnya, organisasi tersebut memprioritaskan wilayah dengan krisis paling parah. Padahal, kebutuhan bantuan terus meningkat di berbagai negara.
Pada akhirnya, jika konflik tidak segera mereda, tekanan terhadap sistem pangan global akan semakin besar. Oleh sebab itu, dunia membutuhkan respons cepat dan dukungan internasional yang kuat.
Jika tidak, krisis ini berpotensi berkembang menjadi bencana kemanusiaan besar dalam waktu dekat.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda



Saat ini belum ada komentar