JAKARTA, (Kabaristana.com) – Pasar keuangan Indonesia menunjukkan pergerakan beragam sepanjang pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan 2,35% dan ditutup di level 7.634,00 pada Jumat (17/4/2026). Kenaikan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong lonjakan harga minyak.
Investor tetap masuk ke pasar saham, meskipun pelaku pasar asing mencatat aksi jual bersih sebesar Rp2,71 triliun. Nilai ini lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.
Saham Grup Barito Jadi Motor Penggerak
Saham-saham Grup Barito memimpin penguatan IHSG. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melonjak 14,22% dan menjadi kontributor terbesar indeks. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ikut naik 16,45%, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menguat 18,22%.
Selain itu, PT Petrosea Tbk (PTRO) juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 15,35%. Kinerja saham-saham ini memperkuat sentimen positif di pasar.
Sejumlah saham lapis dua dan tiga mencatat lonjakan ekstrem. PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) memimpin dengan kenaikan 226%. PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) menyusul dengan kenaikan 203,10%.
Lonjakan ini menunjukkan minat spekulatif investor masih tinggi, terutama saat IHSG bergerak naik.
Tidak Semua Saham Menguat
Sebaliknya, saham PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) mengalami penurunan tajam. Harga sahamnya turun 29,55% dalam sepekan. Penurunan ini menunjukkan sebagian investor mulai melakukan aksi ambil untung di sektor tertentu.
Berbeda dengan IHSG, rupiah justru melemah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah turun 0,32% ke level Rp17.180/US$ pada akhir perdagangan pekan. Posisi ini menjadi level terlemah sepanjang sejarah.
Dalam sepekan, rupiah kehilangan 0,55% nilainya. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan dolar AS di pasar global.
Tekanan Eksternal Dominasi Pasar
Faktor eksternal mendorong pelemahan rupiah. Penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik di kawasan Hormuz, serta arus keluar modal dari pasar obligasi menekan mata uang domestik.
Selain itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tetap stagnan di level 6,583% dalam beberapa hari terakhir.
Prospek Pasar Masih Volatil
Ke depan, pasar keuangan Indonesia kemungkinan tetap bergerak fluktuatif. Investor perlu mencermati perkembangan geopolitik global, pergerakan harga minyak, dan arah kebijakan bank sentral.
Kondisi ini menuntut strategi yang lebih hati-hati, terutama di tengah ketidakpastian yang masih tinggi di pasar global.
Saat ini belum ada komentar