Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Edukasi » Ketika Hukum Menumpuk, Keadilan Justru Menghilang

Ketika Hukum Menumpuk, Keadilan Justru Menghilang

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
  • visibility 432
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, kabaristana.com | Pernyataan sejarawan Romawi Publius Cornelius Tacitus bahwa “semakin korup sebuah negara, semakin banyak aturan hukumnya” kembali terasa relevan dalam realitas hukum hari ini. Kutipan ini bukan sekadar refleksi filosofis, melainkan kritik keras terhadap kekuasaan yang menjadikan hukum sebagai tameng, bukan alat keadilan.

Negara kerap mempresentasikan penumpukan regulasi sebagai bukti keseriusan menata kehidupan publik. Namun dalam praktik, melimpahnya aturan justru menandai kegagalan menjaga integritas. Saat etika runtuh dan kejujuran terkikis, penguasa memproduksi hukum secara masif untuk menutup krisis moral yang seharusnya dicegah melalui keteladanan.

Alih-alih melindungi rakyat, hukum yang berlapis dan rumit sering berubah menjadi instrumen kontrol. Penguasa merancang aturan teknokratis yang sulit dipahami. Situasi ini membuka ruang tafsir luas dan menguntungkan pihak yang memiliki akses serta kedekatan dengan pusat kekuasaan. Akibatnya, hukum bekerja secara selektif: keras terhadap rakyat kecil, lunak terhadap elite.

Kondisi tersebut menunjukkan pergeseran fungsi hukum. Hukum tidak lagi hadir sebagai alat keadilan, melainkan sebagai legitimasi kekuasaan. Negara menegakkan prosedur dan pasal, tetapi mengabaikan rasa keadilan. Legalitas tampak kokoh, sementara keadilan substantif tersingkir.

Tacitus mengingatkan bahwa masalah utama negara bukan terletak pada kekurangan aturan, melainkan krisis integritas. Negara yang sehat tidak membutuhkan hukum berlebihan. Keadilan tumbuh dari moral publik yang kuat dan penegakan hukum yang konsisten. Sebaliknya, negara yang terus menambah aturan tanpa membenahi etika hanya memperlebar jurang ketidakpercayaan publik.

Pada titik ini, publik perlu mengajukan pertanyaan mendasar: untuk siapa hukum bekerja? Jika kekuasaan terus menggunakan hukum sebagai alat dominasi, tumpukan regulasi hanya akan menjadi bukti nyata kemunduran keadilan.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPK periksa direksi Adaro di Gedung Merah Putih Jakarta

    KPK Dalami Kasus Restitusi Pajak Banjarmasin, Direksi Perusahaan Tambang Dipanggil

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 282
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) || Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut dugaan korupsi dalam pengajuan restitusi pajak di Kantor Pelayanan Pajak Madya Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kali ini, penyidik memeriksa sejumlah saksi dari kalangan korporasi dan pihak swasta. KPK memanggil EER, yang menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Adaro Wamco Prima dan PT Drupadi Tirta Intan. Penyidik memeriksa EER di […]

  • Dudung Rizieq konflik mereda saat Dudung Abdurachman di Kantor KSP

    Dudung Buka Suara Soal Rizieq: Tegaskan Tak Ada Lagi Konflik, Ajak Jaga Persatuan

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 190
    • 4Komentar

    JAKARTA, (kabaristana.com) – Dudung Rizieq konflik kembali menarik perhatian publik setelah Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menegaskan bahwa ia sudah tidak memiliki persoalan dengan Rizieq Shihab. Selain itu, ia menyampaikan klarifikasi ini untuk merespons berbagai narasi yang berkembang. Ia menolak anggapan yang mengaitkan dirinya dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto. Dengan tegas, ia memastikan […]

  • Kabid Humas Polda Metro Jaya Budi Hermanto saat memberi keterangan terkait hoaks MBG Uya Kuya di Jakarta

    Hoaks MBG Uya Kuya: Polda Metro Jaya Mulai Penyelidikan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Retanto
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Jakarta, {kabaristana.com}~Kasus hoaks MBG Uya Kuya menarik perhatian publik. Sebuah akun media sosial menyebarkan klaim bahwa ia memiliki ratusan dapur program Makan Bergizi Gratis. Namun, ia langsung membantah informasi tersebut dan menempuh jalur hukum. Laporan ke Polisi Surya Utama (Uya Kuya) mendatangi Polda Metro Jaya untuk membuat laporan resmi. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki […]

  • PT WIN Konawe Selatan saat menjalankan aktivitas tambang dekat pemukiman warga

    Kapolres Konsel Dinilai Tak Punya Kewenangan Hentikan PT WIN, Tokoh Pemuda Minta Publik Bijak

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Brian Putra
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Jakarta, kabaristana.com – Aktivitas pertambangan PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Desa Torobulu, Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan, kembali memicu sorotan publik. Warga menilai aktivitas tambang di dekat pemukiman itu menimbulkan keresahan dan berpotensi merusak lingkungan hidup. Kamis, 21 Mei 2026. Aktivitas Tambang PT WIN Tuai Sorotan Selama beberapa tahun terakhir, masyarakat terus menyoroti aktivitas […]

  • cadangan devisa Indonesia turun Maret 2026

    Cadangan Devisa Indonesia Turun ke US$148,2 Miliar, Tertekan Pembayaran Utang dan Gejolak Global

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 220
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) || Cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026. Penurunan ini terjadi karena pemerintah meningkatkan pembayaran utang luar negeri di tengah tekanan ekonomi global. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa sebelumnya mencapai US$151,9 miliar pada akhir Februari 2026. Penurunan tersebut terjadi ketika pemerintah memenuhi kewajiban utang luar negeri yang jatuh […]

  • Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan strategi ketahanan pangan Indonesia

    Amran: Konflik Global Sudah Diprediksi, Prabowo Siapkan Ketahanan Pangan Sejak Dilantik

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 278
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) | Ketahanan pangan Indonesia tetap kuat meski situasi geopolitik dunia memanas. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga stabilitas pangan nasional sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Amran, pemerintah mempelajari dampak konflik internasional terhadap sektor pangan. Analisis tersebut mencakup perang Rusia–Ukraina hingga ketegangan antara Iran dan Israel […]

expand_less