Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Edukasi » Ketika Hukum Menumpuk, Keadilan Justru Menghilang

Ketika Hukum Menumpuk, Keadilan Justru Menghilang

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
  • visibility 329
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, kabaristana.com | Pernyataan sejarawan Romawi Publius Cornelius Tacitus bahwa “semakin korup sebuah negara, semakin banyak aturan hukumnya” kembali terasa relevan dalam realitas hukum hari ini. Kutipan ini bukan sekadar refleksi filosofis, melainkan kritik keras terhadap kekuasaan yang menjadikan hukum sebagai tameng, bukan alat keadilan.

Negara kerap mempresentasikan penumpukan regulasi sebagai bukti keseriusan menata kehidupan publik. Namun dalam praktik, melimpahnya aturan justru menandai kegagalan menjaga integritas. Saat etika runtuh dan kejujuran terkikis, penguasa memproduksi hukum secara masif untuk menutup krisis moral yang seharusnya dicegah melalui keteladanan.

Alih-alih melindungi rakyat, hukum yang berlapis dan rumit sering berubah menjadi instrumen kontrol. Penguasa merancang aturan teknokratis yang sulit dipahami. Situasi ini membuka ruang tafsir luas dan menguntungkan pihak yang memiliki akses serta kedekatan dengan pusat kekuasaan. Akibatnya, hukum bekerja secara selektif: keras terhadap rakyat kecil, lunak terhadap elite.

Kondisi tersebut menunjukkan pergeseran fungsi hukum. Hukum tidak lagi hadir sebagai alat keadilan, melainkan sebagai legitimasi kekuasaan. Negara menegakkan prosedur dan pasal, tetapi mengabaikan rasa keadilan. Legalitas tampak kokoh, sementara keadilan substantif tersingkir.

Tacitus mengingatkan bahwa masalah utama negara bukan terletak pada kekurangan aturan, melainkan krisis integritas. Negara yang sehat tidak membutuhkan hukum berlebihan. Keadilan tumbuh dari moral publik yang kuat dan penegakan hukum yang konsisten. Sebaliknya, negara yang terus menambah aturan tanpa membenahi etika hanya memperlebar jurang ketidakpercayaan publik.

Pada titik ini, publik perlu mengajukan pertanyaan mendasar: untuk siapa hukum bekerja? Jika kekuasaan terus menggunakan hukum sebagai alat dominasi, tumpukan regulasi hanya akan menjadi bukti nyata kemunduran keadilan.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Demonstrasi Besar di Australia Tolak Kunjungan Presiden Israel

    Demonstrasi Besar di Australia Tolak Kunjungan Presiden Israel

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Brian Putra
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Jakarta, kabaristana.com  | Demonstrasi besar di Australia terjadi secara serentak di sejumlah kota utama setelah masyarakat menyatakan penolakan terhadap rencana kunjungan Presiden Israel. Sejak pagi, massa mulai berkumpul dan bergerak menuju pusat-pusat kota. Karena itu, aksi ini langsung menyedot perhatian publik nasional dan internasional. (10/02/2026). Aksi Massa Meluas di Kota-Kota Besar Ribuan warga memenuhi jalan […]

  • Percepatan proyek Blok Masela di Lapangan Gas Abadi Laut Arafura

    Purbaya Tekan Percepatan Blok Masela, Pemerintah Siap Sapu Bersih Hambatan

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 227
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekan percepatan pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Maluku. Ia menyampaikan sikap tersebut usai rapat bersama manajemen Inpex Masela Ltd dan SKK Migas di Kementerian Keuangan, Selasa (24/2/2026). Dalam pertemuan hampir dua jam itu, Purbaya meminta seluruh pemangku kepentingan menjaga laju proyek. Oleh karena itu, pemerintah […]

  • harga emas Pegadaian hari ini naik di gerai Pegadaian

    Harga Emas Pegadaian Menguat di Akhir Pekan, UBS Tembus Rp2,9 Juta per Gram

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 229
    • 0Komentar

    JAKARTA, duasatunews.com — Kenaikan harga emas batangan kembali menekan daya beli masyarakat dan memengaruhi keputusan investasi publik. Pada Minggu pagi, harga emas yang diperdagangkan melalui Pegadaian melanjutkan tren penguatan, sehingga memicu kewaspadaan di kalangan pembeli ritel. Tren Kenaikan Berlanjut di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Kondisi ini menjadi relevan karena emas masih berfungsi sebagai instrumen lindung nilai […]

  • ambora UNESCO Global Geopark di kawasan Gunung Tambora NTB

    NTB Perkuat Tambora Menuju UNESCO Global Geopark Dunia

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 102
    • 0Komentar

    JAKARTA, (kabaristana.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat langkah menjadikan Gunung Tambora sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Pemprov NTB menempatkan konservasi lingkungan sebagai fondasi utama pembangunan kawasan. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pemerintah fokus melindungi Teluk Saleh. Kawasan itu menjadi penyangga utama ekosistem dan biodiversitas Geopark Tambora. “Kami sudah memiliki pengalaman […]

  • Validasi Data MBG oleh BGN bersama sekolah dan pemerintah daerah untuk memastikan penerima manfaat tepat sasaran.

    BGN libatkan sekolah hingga pemda perkuat validasi data penerima MBG

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Jakarta, (kabaristana.com) – Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat validasi data penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini bertujuan memastikan seluruh kelompok sasaran menerima manfaat secara tepat dan merata. Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menegaskan bahwa akurasi data menjadi prioritas utama. BGN tidak hanya menggabungkan data dari berbagai instansi, tetapi juga melakukan pengecekan langsung di […]

  • Polemik kepemimpinan Unsultra pasca terbit AHU terbaru yayasan

    Prof. Andi Bahrun Diminta Angkat Kaki dari Unsultra Usai Terbit AHU Baru Yayasan

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 431
    • 0Komentar

    JAKARTA, (kabaristana.com) | Polemik kepemimpinan Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) kembali mencuat. Yayasan Pendidikan Tinggi Sulawesi Tenggara (YPT Sultra) menyatakan Prof. Andi Bahrun tidak lagi sah menjabat sebagai rektor setelah terbitnya Administrasi Hukum Umum (AHU) terbaru. Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum menerbitkan AHU tersebut pada 6 Januari 2026 dengan nomor AHU-AH.01.06-0001018. Dokumen ini menjadi […]

expand_less