Konflik AS–Iran Berpotensi Menekan Ekonomi China dari Banyak Sisi
- account_circle Rahman
- calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
- visibility 119
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ilustrasi ketegangan geopolitik AS–Iran yang berdampak pada jalur energi global, dengan China berpotensi menanggung tekanan ekonomi akibat kenaikan harga minyak dan gangguan pelayaran internasional_KI/Rahman
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Kabaristana.com) | Ketegangan yang berpotensi melibatkan Iran dapat memberi tekanan ekonomi signifikan bagi China. Dampak itu muncul meski tidak terjadi konfrontasi militer langsung. Kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran, dan pengetatan sanksi internasional menjadi sumber utama risiko.
Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus dosen tamu Universitas HSE, Murad Sadygzade, menilai Iran memegang posisi strategis dalam peta geopolitik global. Eskalasi di kawasan tersebut, menurut dia, dapat menaikkan biaya pertumbuhan ekonomi China secara bertahap.
“Iran berada di persimpangan pasar energi global, jalur maritim utama, dan rezim sanksi internasional. Gangguan di titik ini akan cepat meningkatkan biaya ekonomi China,” ujar Sadygzade, Kamis (26/2/2026).
Harga Energi Jadi Titik Paling Rentan
China berstatus sebagai importir minyak bersih terbesar di dunia. Ketergantungan ini membuat perekonomian China sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global. Ketegangan di Teluk Persia, terutama yang melibatkan Iran, berpotensi mendorong lonjakan harga minyak.
Kenaikan harga tersebut langsung memengaruhi biaya industri dan inflasi domestik. Beban produksi meningkat, sementara stabilitas ekonomi makro menjadi lebih sulit dijaga.
“Bagi China, kenaikan harga minyak bekerja seperti pajak tambahan. Biaya produksi naik dan tekanan inflasi ikut menguat,” jelas Sadygzade.
Jalur Pelayaran dan Risiko Logistik
Selain harga, risiko juga muncul dari sisi distribusi energi. Iran memiliki pengaruh strategis terhadap keamanan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Eskalasi militer di kawasan itu dapat meningkatkan premi asuransi dan tarif pengiriman.
Bahkan tanpa penutupan fisik jalur laut, sinyal ketegangan sudah cukup mengganggu rantai pasok global. China, yang sangat bergantung pada impor energi lewat jalur laut, akan menanggung biaya logistik tambahan.
“Persepsi risiko saja dapat menaikkan ongkos pengiriman dan mengganggu logistik global,” kata Sadygzade.
Ancaman dari Pengetatan Sanksi
Tekanan lain datang dari arsitektur sanksi internasional. Selama bertahun-tahun, Iran berada di bawah sanksi ketat. Namun, ekspor minyaknya tetap mengalir melalui mekanisme perdagangan bayangan, dengan China sebagai pembeli utama.
Rata-rata impor minyak Iran oleh China mencapai sekitar 1,38 juta barel per hari. Angka ini setara dengan lebih dari 13 persen impor minyak China melalui jalur laut.
Jika penegakan sanksi diperketat, importir China akan menghadapi biaya transaksi lebih tinggi. Selain itu, mereka juga berisiko kehilangan pasokan minyak dengan harga diskon.
“China bisa kehilangan keuntungan ekonomi dari minyak murah Iran jika tekanan sanksi meningkat,” ujar Sadygzade.
Batas Strategi Tekanan terhadap China
Di sisi lain, Amerika Serikat kini memiliki ketahanan energi yang lebih kuat dibandingkan satu dekade lalu. Peningkatan produksi dan ekspor minyak memberi bantalan terhadap gejolak global. Meski begitu, lonjakan harga energi tetap berisiko menekan konsumen dan sekutu AS yang merupakan importir bersih.
Sadygzade mengingatkan bahwa strategi menekan China melalui konflik Iran memiliki batas. Eskalasi berkepanjangan justru dapat mendorong Beijing mempercepat diversifikasi energi dan memperbesar cadangan strategis.
“Tekanan jangka pendek memang terasa berat. Namun dalam jangka panjang, China bisa membangun ketahanan ekonomi baru,” katanya.
Konflik yang melibatkan Iran berpotensi menekan ekonomi China melalui berbagai saluran sekaligus. Harga energi, jalur pelayaran, dan sanksi internasional menjadi faktor kunci. Namun, dampak akhirnya sangat bergantung pada skala eskalasi dan kemampuan aktor global mengelola risiko lanjutan terhadap ekonomi dunia.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: https://www.cnbcindonesia.com

Saat ini belum ada komentar