JAKARTA, (kabaristana.com) || Penembakan di Nigeria kembali memicu tragedi berdarah di Kota Jos, Negara Bagian Plateau, Minggu (30/3/2026). Serangan di sebuah bar berubah menjadi rangkaian kekerasan yang menewaskan sedikitnya 27 orang dan memperburuk situasi keamanan di wilayah tersebut.
Serangan di Bar Tewaskan Belasan Orang
Peristiwa bermula di kawasan Anguwan Rukuba, Distrik Jos Utara. Sekelompok pria bersenjata menyerang sebuah bar sekaligus restoran dan menembaki para pengunjung. Aksi itu menewaskan sedikitnya 12 orang di lokasi dan melukai beberapa lainnya. Warga sekitar panik dan berusaha menyelamatkan diri saat tembakan terdengar.
Amuk Massa Perparah Jumlah Korban
Setelah penembakan di Nigeria itu, warga yang marah segera berkumpul dan mengejar para pelaku. Namun, aksi tersebut berubah menjadi amuk massa. Mereka menyerang orang-orang yang melintas dan warga lain yang tidak terkait dengan insiden awal.
Kekerasan susulan ini menambah jumlah korban jiwa secara signifikan. Pemerintah setempat mencatat total korban tewas mencapai 27 orang. Aparat keamanan langsung turun ke lapangan untuk mengendalikan situasi dan membubarkan kerumunan.
Penyelidikan dan Pengamanan Diperketat
Aparat terus menyelidiki kasus penembakan di Nigeria tersebut. Mereka mengumpulkan keterangan saksi dan mencari pelaku yang terlibat dalam serangan awal. Hingga kini, pihak berwenang belum mengungkap motif maupun identitas pelaku.
Selain itu, aparat meningkatkan patroli dan penjagaan di sejumlah titik rawan. Langkah ini bertujuan mencegah aksi balasan lanjutan yang dapat memperparah kondisi keamanan.
Konflik Plateau Jadi Pemicu Utama
Negara Bagian Plateau termasuk wilayah rawan konflik di Nigeria, terutama di kawasan Middle Belt. Sengketa lahan antara petani dan penggembala sering memicu bentrokan yang meluas.
Di wilayah pedesaan, petani yang mayoritas beragama Kristen kerap berkonflik dengan penggembala Muslim Fulani. Banyak pengamat menilai konflik ini berkaitan dengan perebutan sumber daya, perubahan iklim, serta tekanan pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi.
Wilayah ini juga memiliki riwayat kekerasan panjang, termasuk insiden besar pada 2001 dan 2008. Lemahnya penegakan hukum membuat siklus konflik terus berulang tanpa penyelesaian yang tuntas.
Jam Malam Diterapkan untuk Redam Situasi
Pemerintah setempat kini menerapkan jam malam di Jos Utara sejak Minggu hingga Rabu. Otoritas berharap kebijakan ini mampu menekan eskalasi konflik, memulihkan ketertiban, serta memberi rasa aman bagi masyarakat.
Saat ini belum ada komentar