Korut Uji Coba 5 Rudal Balistik Taktis Berhulu Ledak Bom Tandan, Klaim Tepat Sasaran
- account_circle Rahman
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Peluncuran rudal balistik Korea Utara saat uji coba militer, memperlihatkan nyala api besar dari sistem peluncur saat rudal melesat ke udara.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (Kabaristana.com) – Rudal korut tandan kembali menjadi sorotan setelah Korea Utara meluncurkan lima rudal balistik taktis pada Minggu (19/4/2026). Pemimpin negara, Kim Jong Un, menyaksikan langsung uji coba tersebut. Kelima rudal itu mencapai target sejauh 136 kilometer.
KCNA melaporkan penggunaan rudal jenis Hwasongpho-11 Ra. Uji coba ini menguji daya hulu ledak bom tandan dan ranjau fragmentasi dalam kondisi nyata. Korea Utara terus mengembangkan sistem persenjataan taktis melalui rangkaian pengujian berkala.
Pengembangan Militer dan Strategi Pertahanan
Pengembangan teknologi senjata ini meningkatkan daya serang militer Korea Utara. Kim Jong Un menyatakan kepuasan atas hasil uji coba tersebut. Ia menilai sistem ini memberi keunggulan strategis bagi negaranya dalam menghadapi potensi ancaman.
Korea Utara sebelumnya juga menguji varian Hwasongpho-11 Ka dengan teknologi serupa. Pemerintah di Pyongyang mempercepat modernisasi militer untuk memperkuat posisi di kawasan Asia Timur.
Pada saat yang sama, Jepang dan Korea Selatan mendeteksi peluncuran rudal dari wilayah Sinpo ke arah Laut Jepang. Militer Korea Selatan menduga kapal selam meluncurkan rudal tersebut, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Korea Utara.
Dampak Global dan Respons Internasional
Penggunaan bom tandan dalam rudal korut tandan memicu kritik internasional. Senjata ini menyebarkan submunisi dalam area luas dan meningkatkan risiko bagi warga sipil, bahkan setelah konflik berakhir.
Korea Utara tidak bergabung dalam Konvensi Amunisi Tandan (CCM). Perjanjian ini melarang penggunaan bom tandan karena dampaknya yang luas dan berbahaya.
Uji coba ini meningkatkan ketegangan di Asia Timur. Negara-negara sekitar memperketat pengawasan terhadap aktivitas militer Korea Utara. Selain itu, komunitas internasional terus menyoroti potensi eskalasi konflik serta dampak jangka panjang terhadap stabilitas kawasan.
Perkembangan ini juga mendorong diskusi global mengenai pengendalian senjata dan perlunya kerja sama internasional untuk mengurangi risiko penggunaan senjata berbahaya di masa depan.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: Kyodo News

Saat ini belum ada komentar