Badan Bahasa Tegaskan Literasi Bukan Sekadar Membaca, tetapi Memahami dan Bertindak
- account_circle Retanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin dan Ketua Umum Adobsi Dr. Wati Istanti menunjukkan dokumen kerja sama usai penandatanganan pada Konferensi Internasional Adobsi 2026 di Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (10/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (Kabaristana.com) – Literasi bukan sekadar membaca, tetapi juga memahami isi bacaan, berpikir kritis, dan menerapkan pemahaman dalam kehidupan sehari-hari. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Hafidz Muksin, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Konferensi Internasional Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (Adobsi) 2026 di Kantor Balai Bahasa Jawa Tengah, Kabupaten Semarang, Rabu.
Hafidz menilai kemampuan membaca belum cukup untuk menunjukkan tingkat literasi seseorang. Masyarakat perlu memahami pesan yang dibaca dan mengubahnya menjadi tindakan nyata.
Literasi Bukan Sekadar Membaca, tetapi Memahami
Hafidz menjelaskan bahwa literasi mencakup olah baca, olah pikir, dan olah tindak. Ketiga unsur tersebut membentuk kemampuan seseorang dalam memproses informasi secara utuh.
Ia mencontohkan masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan meskipun telah membaca papan larangan. Kondisi itu menunjukkan bahwa kemampuan membaca tidak selalu diikuti pemahaman dan kesadaran bertindak.
Menurut Hafidz, masyarakat yang memiliki literasi tinggi mampu memahami pesan, menilai isinya, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi Bukan Sekadar Membaca Perlu Dukungan Bersama
Badan Bahasa terus mendorong peningkatan literasi melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satu mitra strategisnya ialah Adobsi yang berperan menyiapkan calon guru Bahasa Indonesia.
Hafidz mengatakan dosen bahasa dan sastra Indonesia memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk kualitas guru masa depan. Guru yang kompeten dapat menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi perlu memperkuat pendidikan bagi calon guru agar mereka siap menghadapi tantangan pembelajaran.
Adobsi Tingkatkan Kompetensi Calon Guru
Ketua Umum Adobsi, Dr. Wati Istanti, mengatakan konferensi internasional tersebut bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan calon guru bahasa dan sastra Indonesia.
Menurutnya, mahasiswa perlu menguasai tiga aspek penting dalam berbahasa Indonesia. Ketiga aspek itu meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap berbahasa.
Wati berharap para mahasiswa dapat menyalurkan kompetensi tersebut saat menjalankan profesi sebagai guru.
Konferensi itu juga menghadirkan pembicara dari berbagai negara. Mereka berasal dari Yale University di Amerika Serikat, University of Melbourne di Australia, dan University of Social Science and Humanities di Vietnam.
Wati menjelaskan bahwa pengalaman internasional dapat memperkaya metode pengajaran Bahasa Indonesia. Ia menyebut penggunaan Bahasa Indonesia di Vietnam bahkan mulai berkembang sebagai bahasa kedua pada lingkungan tertentu.
Selain konferensi, Badan Bahasa dan Adobsi menandatangani perjanjian kerja sama. Kedua pihak berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan calon guru bahasa dan sastra Indonesia guna memperkuat literasi nasional.
- Penulis: Retanto
- Editor: Wilda



Saat ini belum ada komentar