JAKARTA, (kabaristana.com)| Majelis Ahli Iran menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Ia menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pada akhir Februari 2026.
Majelis Ahli mengambil keputusan itu melalui pemungutan suara dalam rapat tertutup pada Minggu (08/03/2026). Keputusan tersebut mencatat sejarah baru bagi Iran.
Untuk pertama kalinya sejak Revolusi Iran 1979, kekuasaan tertinggi negara itu berpindah langsung dari ayah kepada anak.
Sebelum penunjukan permanen, Iran sempat mengalami masa transisi kepemimpinan. Pemerintah membentuk dewan interim untuk menjalankan tugas sementara.
Dewan itu beranggotakan Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan ulama Alireza Arafi. Mereka menjalankan fungsi kepemimpinan hingga Majelis Ahli menentukan pengganti tetap.
Berikut sejumlah fakta mengenai Mojtaba Khamenei.
Dukungan Garda Revolusi Iran
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memberikan dukungan kuat kepada Mojtaba Khamenei. Lembaga militer ini memiliki pengaruh besar dalam sistem politik Iran.
Sejumlah laporan menyebut para komandan IRGC aktif berkomunikasi dengan anggota Majelis Ahli sebelum pemungutan suara. Mereka mendorong dukungan terhadap Mojtaba.
Langkah tersebut memperkuat peluangnya untuk terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Proses Pemilihan Diwarnai Kontroversi
Beberapa sumber menyebut suasana rapat Majelis Ahli berlangsung tidak biasa. Sejumlah anggota merasakan tekanan selama proses pembahasan.
Kelompok oposisi juga mendapat waktu terbatas untuk menyampaikan pendapat. Kondisi itu memicu kritik dari sebagian anggota majelis.
Meski demikian, pemungutan suara tetap berlangsung hingga keputusan final keluar.
Setelah hasil diumumkan, Garda Revolusi langsung menyatakan dukungan kepada Mojtaba Khamenei.
Dinilai Mampu Menjaga Stabilitas
Kalangan elite keamanan memandang Mojtaba sebagai figur yang mampu menjaga stabilitas politik Iran.
Selama bertahun-tahun, ia membangun hubungan dekat dengan para komandan IRGC. Ia juga berperan sebagai penghubung antara lembaga keamanan dan kantor ayahnya.
Hubungan tersebut membuat banyak pihak percaya bahwa ia mampu menjaga kesinambungan kekuasaan.
Jarang Tampil di Jabatan Publik
Mojtaba Khamenei tidak pernah memegang jabatan publik melalui pemilu. Ia lebih sering bekerja di belakang layar dalam struktur kekuasaan Iran.
Secara keagamaan, ia menyandang gelar ulama Hojjatoleslam. Gelar ini berada di bawah tingkat ulama yang biasanya memimpin Republik Islam Iran.
Meski demikian, pengaruhnya di lingkar kekuasaan tetap kuat.
Pengaruh Politik Sejak 2005
Pengaruh Mojtaba mulai terlihat pada pemilihan presiden Iran tahun 2005. Beberapa rival politik menuduhnya membantu kemenangan Mahmoud Ahmadinejad.
Namanya juga muncul dalam berbagai laporan terkait penanganan protes besar setelah pemilu 2009.
Sejak saat itu, ia memperkuat jaringan dengan aparat keamanan, ulama konservatif, dan elite politik.
Kekuatan dari Jaringan “Bayt”
Mojtaba memiliki akses kuat ke struktur kekuasaan yang dikenal sebagai “Bayt”. Struktur ini mengelola kantor Pemimpin Tertinggi Iran.
Bayt menghubungkan banyak lembaga penting negara. Jaringan ini mencakup badan keamanan, lembaga keagamaan, yayasan ekonomi, hingga organisasi politik.
Melalui jaringan tersebut, kantor Pemimpin Tertinggi dapat memantau berbagai keputusan strategis negara.
Karena lama berada di dalam sistem ini, Mojtaba memiliki dukungan kuat dari banyak tokoh berpengaruh di Iran.




Saat ini belum ada komentar