Yusril berpesan agar generasi muda belajar pemikiran pendiri bangsa
- account_circle Rahman
- calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
- visibility 45
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra berziarah ke makam Pahlawan Nasional Mohammad Natsir di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Kabaristana.com) – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengajak generasi muda mempelajari pemikiran para pendiri bangsa. Menurutnya, warisan intelektual mereka penting untuk menjaga nilai kebangsaan, demokrasi, dan keislaman di Indonesia.
Yusril menilai Perdana Menteri ke-5 Indonesia, Mohammad Natsir, sebagai salah satu tokoh yang layak menjadi teladan. Ia menyebut pemikiran Natsir tetap relevan dalam menjawab tantangan bangsa saat ini.
“Generasi muda perlu terus membaca, menelaah, dan mengembangkan warisan intelektual para pendiri bangsa agar nilai kebangsaan, keislaman, dan demokrasi terus hidup,” kata Yusril di Jakarta, Minggu.
Mohammad Natsir Jadi Inspirasi
Yusril menjelaskan Mohammad Natsir sudah aktif menulis sejak usia muda. Berbagai gagasannya masih menjadi referensi bagi banyak kalangan hingga sekarang.
Menurut Yusril, sejarah mencatat Natsir pernah berdebat dengan Presiden pertama RI Soekarno mengenai hubungan Islam dan negara. Meski berbeda pandangan, keduanya tetap saling menghormati dan menjaga kepentingan bangsa.
Yusril menilai sikap tersebut menjadi teladan bagi kehidupan politik saat ini. Ia mengatakan setiap perbedaan harus memperkuat demokrasi, bukan memecah persatuan.
“Politik membutuhkan integritas dan kedewasaan. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, tetapi kepentingan Indonesia harus tetap menjadi prioritas,” ujarnya.
Ziarah Jelang Ujian Doktor
Menjelang ujian promosi doktor filsafat di Universitas Indonesia, Yusril berziarah ke makam Pahlawan Nasional Mohammad Natsir di TPU Karet Bivak, Jakarta, pada Rabu (24/6).
Ia mengenang kedekatannya dengan Natsir sejak 1978 hingga tokoh Masyumi itu wafat pada 1993. Selama itu, Yusril banyak belajar dari pemikiran, sikap, dan keteladanan Natsir.
Yusril berharap ziarah tersebut memberi hikmah sekaligus memperkuat semangatnya dalam mengembangkan kajian filsafat dan pengabdian kepada bangsa.
Disertasi Bahas Relasi Islam dan Negara
Dalam ujian promosi doktor, Yusril akan mempertahankan disertasi berjudul Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial.
Melalui penelitian itu, Yusril mengkaji kembali pemikiran Mohammad Natsir mengenai hubungan Islam dan negara. Ia menggunakan pendekatan hermeneutika fenomenologis-eksistensial untuk melihat relevansi gagasan tersebut dalam kehidupan berbangsa saat ini.
Yusril menegaskan Mohammad Natsir membuktikan bahwa Islam dan demokrasi dapat berjalan berdampingan. Menurutnya, keteladanan, integritas, dan semangat pengabdian Natsir menjadi warisan penting bagi generasi penerus Indonesia.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: Tim Redaksi



Saat ini belum ada komentar