Pelaku Industri Tekstil RI Titip Harapan ke Prabowo Jelang Dialog dengan Trump
- account_circle Rahman
- calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
- visibility 251
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden Indonesia, Prabowo subianto tiba di Amerika Serikat dan menuruni tangga pesawat Garuda Indonesia saat kunjungan resmi, Selasa (17/2/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA,Kabaristana.com | Tekstil harap Prabowo Trump membawa harapan baru bagi pelaku industri nasional. Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai menjadi momentum penting untuk memperbaiki akses ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat.
Pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berharap Amerika Serikat memberikan relaksasi tarif resiprokal. Selama ini, tarif tinggi membuat produk tekstil Indonesia sulit bersaing di pasar AS. Tekanan tersebut semakin berat karena kondisi industri dalam negeri belum sepenuhnya pulih.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menilai kebijakan tarif menjadi faktor utama pemulihan ekspor. Menurutnya, penurunan tarif akan membantu industri meningkatkan volume ekspor dan menjaga keberlangsungan produksi.
Amerika Serikat menawarkan penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen. Namun, AS meminta Indonesia meningkatkan impor kapas dari negaranya sebagai syarat. Skema tersebut dinilai tidak mudah diterapkan dalam kondisi industri saat ini.
Tekstil Harap Prabowo Trump Bahas Impor Kapas
Redma menjelaskan industri pemintalan nasional masih beroperasi dengan tingkat utilisasi di bawah 50 persen. Kondisi ini membuat pabrik sulit menyerap tambahan bahan baku. Selama utilisasi belum meningkat, impor kapas dari Amerika Serikat sulit bertambah.
Sebelum pandemi, Indonesia mengimpor sekitar 600 ribu ton kapas per tahun. Sekitar 300 ribu ton berasal dari Amerika Serikat. Namun setelah 2022, volume impor kapas terus menurun. Pada 2025, total impor hanya sekitar 300 ribu ton, dengan porsi dari AS sekitar 70 ribu ton.
Selain persoalan tarif dan bahan baku, industri tekstil juga menghadapi tekanan dari membanjirnya produk impor berharga dumping. Produk kain dan benang impor masuk dengan harga murah dan menekan pasar domestik. Kondisi ini membuat produksi lokal sulit berkembang.
Redma menegaskan industri membutuhkan pasar yang adil dan persaingan sehat. Tanpa pengendalian impor dumping, utilisasi pabrik tidak akan meningkat. Ia berharap pertemuan Prabowo dan Trump dapat menghasilkan kebijakan konkret yang mendukung pemulihan industri tekstil nasional.
Selain berdampak pada ekspor, kebijakan tarif Amerika Serikat juga berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor tekstil. Industri berharap hasil diplomasi pemerintah mampu menjaga keberlangsungan usaha, meningkatkan utilisasi pabrik, serta mendorong pemulihan industri dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: https://www.duasatunews.com



Saat ini belum ada komentar