Pengaruh atas Kenaikan BBM Non-Subsidi dan Dampaknya terhadap Harga Sembako
- account_circle Rahman
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, (Kabaristana.com) – Kenaikan harga BBM non-subsidi mendorong naiknya harga sembako melalui peningkatan biaya distribusi. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Pusat-Utara menilai kebijakan ini tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari dinamika ekonomi, sosial, dan politik masyarakat.
HMI menjelaskan bahwa meskipun BBM non-subsidi tidak secara langsung menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, kebijakan ini tetap memberi dampak melalui efek berantai (transmission effect). Kenaikan biaya transportasi distribusi membuat pelaku usaha menaikkan harga barang kebutuhan pokok.
Selain itu, HMI menemukan pelaku pasar sering merespons kenaikan BBM secara berlebihan. Kondisi ini muncul karena ketidakseimbangan informasi (asymmetric information), sehingga pedagang menaikkan harga sembako sebelum dampak riil terjadi. Lemahnya pengawasan distribusi juga memperburuk situasi tersebut.
Dari sisi politik ekonomi, kebijakan ini menempatkan pemerintah dalam dilema antara menjaga stabilitas fiskal dan mempertahankan daya beli masyarakat. Kenaikan harga sembako, meskipun tidak selalu besar, tetap memengaruhi persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.
HMI juga menyoroti bahwa berbagai aktor politik dapat memanfaatkan isu kenaikan BBM dan harga sembako dalam dinamika nasional. Mereka menggunakan isu ini untuk membentuk opini publik terkait kesejahteraan dan keadilan sosial.
Sebagai solusi, HMI mendorong pemerintah untuk tidak hanya mengandalkan operasi pasar sebagai langkah jangka pendek. Pemerintah perlu memperbaiki sistem distribusi pangan, meningkatkan transparansi harga, dan memperkuat pengawasan agar dapat menekan distorsi pasar.
HMI menegaskan bahwa pemerintah harus mengelola kebijakan kenaikan BBM non-subsidi secara komprehensif agar tidak memicu instabilitas ekonomi maupun menurunkan kepercayaan publik.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana

Saat ini belum ada komentar