JAKARTA, (kabaristana.com) || Arab Saudi mendesak Amerika Serikat menghentikan blokade di Selat Hormuz dan segera kembali berunding dengan Iran. Riyadh menilai langkah militer tersebut berisiko meningkatkan ketegangan dan mengganggu jalur distribusi energi global.
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan pengerahan angkatan laut untuk memblokade jalur tersebut mulai Senin (13/4). Pemerintah AS mengambil keputusan ini setelah perundingan dengan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Sebelumnya, kedua pihak menggelar dialog sebagai bagian dari upaya meredakan konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Dalam periode itu, serangan militer menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar dan memperburuk situasi kawasan.
Arab Saudi melihat kebijakan blokade ini dapat memicu respons langsung dari Iran. Riyadh memperkirakan Teheran bisa menutup Bab al-Mandab, jalur penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Selain itu, Selat Hormuz memegang peran vital dalam perdagangan energi dunia. Gangguan di wilayah ini berpotensi menaikkan harga minyak dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
Negara-negara Teluk tidak menginginkan konflik berujung pada penguasaan jalur strategis oleh Iran. Mereka mendorong semua pihak menyelesaikan konflik melalui meja perundingan dan menghindari eskalasi militer.
Meski situasi memanas, mediator regional terus menjembatani komunikasi antara AS dan Iran. Kedua pihak masih membuka peluang dialog, asalkan masing-masing menunjukkan fleksibilitas.
Laporan ini pertama kali dimuat oleh The Wall Street Journal dengan mengutip sumber pejabat regional.
Saat ini belum ada komentar