JAKARTA, (Kabaristana.com) | Hizbullah meluncurkan sekitar 20 serangan roket dan drone ke sejumlah target militer Israel di wilayah utara pada Sabtu (8/3). Kelompok yang berbasis di Lebanon itu menyebut serangan ini sebagai respons atas operasi militer Israel di berbagai wilayah Lebanon.
Melalui pernyataan di Telegram, Hizbullah menyebut beberapa kota dan fasilitas militer Israel menjadi sasaran. Kota yang mereka sebut antara lain Nahariya, Haifa, dan Kiryat Shmona.
Serangan tersebut berlangsung dalam beberapa gelombang. Hizbullah menggabungkan serangan roket dengan penggunaan pesawat nirawak.
Target Kota dan Fasilitas Militer
Hizbullah mengarahkan salah satu serangan utama ke kota Nahariya di Israel utara. Mereka meluncurkan tiga gelombang roket yang disertai drone pengintai dan drone serang.
Sebelum serangan dimulai, Hizbullah memperingatkan warga sipil di Nahariya dan Kiryat Shmona. Kelompok itu meminta warga meninggalkan wilayah tersebut dan bergerak ke arah selatan demi keselamatan.
Hizbullah menyebarkan peringatan itu melalui Telegram. Mereka juga menyertakan peta wilayah kedua kota tersebut.
Selain itu, Hizbullah menargetkan radar sistem pertahanan udara Iron Dome di kawasan Kiryat Eliezer. Lokasi ini berada di kota Haifa dan menjadi bagian penting dari sistem pertahanan udara Israel.
Serangan lain juga menyasar pangkalan militer Stella Maris serta kompleks industri militer Rafael di dekat kota Acre.
Serangan di Perbatasan Lebanon–Israel
Hizbullah juga menyerang sejumlah posisi militer Israel di dekat perbatasan Lebanon. Kelompok itu menargetkan konsentrasi pasukan Israel di sekitar Khiam dan Bukit Hamamis di Lebanon selatan.
Mereka juga menyerang posisi militer di sekitar perlintasan Gerbang Fatima di perbatasan Lebanon–Israel.
Selain itu, Hizbullah menargetkan pangkalan militer Ein Zeitim di wilayah barat laut kota Safed.
Kelompok tersebut juga menembakkan satu rudal presisi ke arah pangkalan Tel Hashomer. Pangkalan ini berada sekitar 120 kilometer dari perbatasan Lebanon.
Ketegangan Kawasan Kembali Meningkat
Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi operasi pasukan khusus di Lebanon timur. Pasukan tersebut mencari sisa jasad navigator Israel yang hilang, Ron Arad.
Operasi itu tidak menemukan hasil.
Ketegangan antara Israel dan Hizbullah kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Israel memperluas operasi militer di Lebanon setelah terjadi tembakan roket terbatas dari Hizbullah.
Konflik antara kedua pihak telah berlangsung sejak Oktober 2023. Situasi kemudian meningkat menjadi perang lebih luas pada September 2024.
Kedua pihak sebenarnya menyepakati gencatan senjata pada November 2024. Namun bentrokan dan pelanggaran kesepakatan masih sering terjadi hingga saat ini. Kondisi tersebut membuat kawasan perbatasan Lebanon dan Israel tetap berada dalam situasi tegang.


Saat ini belum ada komentar