JAKARTA, (Kabaristana.com) | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan kondisi pasokan minyak Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat turut memicu kekhawatiran terhadap distribusi energi global.
Bahlil menegaskan Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan minyak dunia. Setiap hari sekitar 21 juta barel minyak melewati jalur tersebut. Gangguan di kawasan itu berpotensi memengaruhi pasokan energi bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
“Selat Hormuz dilalui sekitar 21 juta barel minyak per hari. Kondisi ini tentu memengaruhi pasokan energi global,” ujar Bahlil dalam podcast Kementerian ESDM, Rabu (11/3/2026).
Produksi Minyak RI Masih di Bawah Kebutuhan
Bahlil menyebut produksi minyak Indonesia saat ini mencapai sekitar 605 ribu barel per hari. Sementara itu, kebutuhan konsumsi nasional mencapai 1,6 juta barel per hari.
Selisih antara produksi dan kebutuhan tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak setiap hari untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Pemerintah terus berupaya mengurangi ketergantungan impor, terutama pada BBM jenis solar.
Indonesia Tak Lagi Impor Solar
Bahlil menyampaikan bahwa Indonesia kini mampu memenuhi kebutuhan solar dari produksi dalam negeri. Kapasitas kilang nasional meningkat setelah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan mulai beroperasi pada Januari 2026.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat pasokan energi melalui kebijakan mandatori biodiesel B40.
“Kita sudah mendorong penggunaan biodiesel B40 dan ke depan bisa menuju B50. Dengan kapasitas industri saat ini, Indonesia tidak lagi mengimpor solar,” kata Bahlil.
Kebutuhan solar nasional tercatat sekitar 39 juta kiloliter per tahun.
Impor Bensin Masih Berlangsung
Berbeda dengan solar, Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan bensin.
Konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun. Sebelum RDMP Balikpapan beroperasi, kilang dalam negeri hanya memproduksi sekitar 14,5 juta kiloliter bensin.
Kilang Balikpapan menambah kapasitas produksi sekitar 5,5 juta kiloliter, sehingga total produksi domestik kini mendekati 20 juta kiloliter.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 20 juta kiloliter bensin.
Indonesia Alihkan Impor Crude dari Timur Tengah
Bahlil menegaskan Indonesia tidak mengimpor BBM jadi dari Timur Tengah. Indonesia hanya mengimpor minyak mentah (crude oil) dari kawasan tersebut untuk kemudian diolah di kilang dalam negeri.
Selama ini sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah.
Pemerintah kemudian mengantisipasi penutupan Selat Hormuz dengan mengalihkan sebagian sumber pasokan ke negara lain.
“Kami sudah menjajaki sumber pasokan dari Amerika Serikat, Angola, serta beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin,” jelas Bahlil.
Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi nasional meski jalur distribusi utama mengalami gangguan.
Pemerintah Perkuat Cadangan Energi Nasional
Bahlil juga menyoroti kapasitas cadangan energi nasional yang masih terbatas. Saat ini Indonesia hanya memiliki cadangan minyak sekitar 25 hari.
Karena itu, pemerintah berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga mampu menampung cadangan selama tiga bulan.
Menurut Bahlil, peningkatan kapasitas storage menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Saat ini belum ada komentar