Deforestasi Nikel Sulawesi Tenggara dan Elite Tambang
- account_circle Porondosi
- calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
- visibility 187
- comment 1 komentar
- print Cetak

ilustrasi gambar raja dan ratu nikel
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, kabaristana.com– Ekspansi industri nikel terus mempercepat deforestasi di Sulawesi Tenggara (Sultra), Sejumlah elite bisnis tambang yang kerap disebut publik sebagai raja dan ratu nikel mengendalikan laju produksi dan menikmati keuntungan besar dari penguasaan ruang hutan. (27/01/2026).
Dalam sepuluh tahun terakhir, perusahaan tambang membuka hutan secara masif. Mereka membangun jalan hauling, area tambang terbuka, dan kawasan industri nikel. Aktivitas ini menyebar dari daratan utama hingga pulau-pulau kecil yang memiliki daya dukung terbatas.
Organisasi lingkungan mencatat hubungan langsung antara tambang nikel dan deforestasi. Berdasarkan berita dari Wahana lingkungan hidup (WALHI), menilai ekspansi tambang memperparah banjir, merusak sungai, dan mencemari pesisir. Kerusakan itu mengancam kehidupan petani dan nelayan di sekitar wilayah tambang.
Lebih jauh lagi, Temuan Auriga Nusantara menunjukkan pembukaan hutan sering mengikuti penerbitan izin usaha pertambangan. Perusahaan membuka lahan lebih cepat dibanding pemulihan lingkungan yang diwajibkan.
Keuntungan industri nikel terkonsentrasi pada segelintir pemilik modal. Sebaliknya, masyarakat lokal menanggung dampak langsung. Warga kehilangan kebun, ruang hidup, dan sumber air bersih. Konflik lahan pun meningkat di sejumlah kabupaten penghasil nikel.
Penerapan penegakan hukum lingkungan belum secara tegas. Aparat lamban menindak pelanggaran di kawasan hutan dan wilayah pesisir. Sejumlah aktivitas tambang masih tetap saja berjalan meski memicu protes warga.
Masyarakat di daerah setempat mendesak negara harus bertindak. Hal tersebut, mengharuskan pemerintah pusat melakukan penindakan tegas, serta mereka meminta pemerintah pusat dan instansi terkait untuk segera mengaudit izin tambang, menghentikan operasi di pulau kecil, dan membuka data kepemilikan perusahaan. Mereka juga menuntut pemulihan lingkungan dan perlindungan hak warga terdampak.
“Transisi energi tidak boleh merusak hutan dan mengorbankan masyarakat,” tegas pernyataan masyarakat setempat.
Tanpa tindakan tegas, industri nikel akan terus menggerus hutan Sulawesi Tenggara. Sementara itu, raja dan ratu nikel tetap melaju dengan keuntungan besar di tengah krisis ekologis.
- Penulis: Porondosi
- Editor: Brian putra
- Sumber: https://www.walhi.or.id/



Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me? https://accounts.binance.info/register/person?ref=IHJUI7TF
2 Mei 2026 7:20 pm