Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Membaca Dinamika Politik Sultra dari Percakapan Sehari-hari

Membaca Dinamika Politik Sultra dari Percakapan Sehari-hari

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
  • visibility 566
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, (kabaristana.com) – Sulawesi Tenggara hari ini tidak sedang baik-baik saja. Bukan karena daerah ini kekurangan sumber daya. Bukan pula karena Sultra miskin orang-orang cakap. Namun, kegelisahan itu muncul karena rasa asing yang tumbuh perlahan di tengah dinamika politiknya sendiri.

Kekuasaan terus berganti dari waktu ke waktu. Akan tetapi, para pemimpin yang muncul sering kali tidak lahir dari tanah ini. Akibatnya, sistem perlahan mendorong putra daerah ke pinggir. Sementara itu, pihak luar justru menentukan arah kebijakan, meski mereka tidak tumbuh bersama luka, sejarah, dan denyut kebudayaan Sulawesi Tenggara.

Percakapan Sederhana yang Membuka Luka

Keganjilan itu terasa nyata, bahkan dalam percakapan yang sangat sederhana. Ia tidak muncul di ruang sidang atau forum resmi, melainkan dalam obrolan sehari-hari ruang di mana orang sering menyampaikan pikiran jujur tanpa topeng.

“Ooo… dia suku Tolaki ya? Ooh… pantes.”

Sebagian orang mungkin tidak mengucapkan kalimat ini dengan niat mendiskriminasi. Namun, cara berpikir di baliknya tetap menempatkan identitas suku asli sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan, bahkan dipertanyakan. Padahal, suku Tolaki dan suku-suku asli lainnya membangun fondasi sejarah dan kebudayaan Sulawesi Tenggara.

Identitas yang Dipertanyakan

Sekilas, kalimat itu terdengar sepele. Namun sesungguhnya, kalimat tersebut membawa logika politik yang panjang. Logika itu menjadikan identitas suku asli sebagai penjelasan atas segalanya—atas keterbatasan, atas keraguan, bahkan atas anggapan ketidaklayakan memimpin.

Sebagai anak asli daerah, aku terdiam. Dalam diam, aku bertanya:
Memangnya kenapa jika Tolaki?
Sejak kapan menjadi pribumi Sulawesi Tenggara harus disampaikan dengan nada heran?

Kalimat itu memang tidak berteriak. Namun, ia menancap pelan dan meninggalkan luka, seperti duri yang dibiarkan tinggal di dada. Karena itu, pertanyaan tersebut terus berulang dalam benakku: sejak kapan identitas asli harus diberi alasan?

Keberagaman Bukan Masalahnya

Aku tidak menolak keberagaman. Darah Bugis mengalir dari ibuku. Sejak kecil, aku tumbuh dalam persaudaraan lintas suku. Oleh sebab itu, persoalan ini tidak terletak pada asal-usul.

Sebaliknya, masalah utama muncul dari cara kuasa bekerja. Ketika masyarakat terus memuliakan satu identitas, mereka justru memandang identitas lain dengan tanda tanya. Pada titik inilah ketimpangan itu hadir, meski sering luput dari kesadaran.

Diskriminasi yang Paling Rapi

Percakapan kecil itu sejatinya menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana politik membentuk cara berpikir masyarakat: siapa yang mereka anggap pantas memimpin dan siapa yang hanya mereka tempatkan sebagai pendukung.

Inilah bentuk diskriminasi yang paling rapi. Ia tidak hadir dalam aturan tertulis, tetapi hidup dalam ucapan. Ia tidak muncul di mimbar, namun mengendap dalam keputusan-keputusan penting.

Mengembalikan Kepercayaan pada Anak Daerah

Sulawesi Tenggara tidak membutuhkan belas kasihan dari luar. Sebaliknya, daerah ini hanya menuntut keadilan dari dirinya sendiri. Sultra membutuhkan kepercayaan pada anak-anak tanahnya sendiri. Lebih dari itu, masyarakat Sultra perlu mengakui bahwa putra daerah bukan sekadar pelengkap demokrasi.

Jika hari ini aku menuliskan kegelisahan ini, tujuannya bukan untuk memecah belah tapi Tulisan ini justru ingin mengingatkan,  politik yang sehat tidak pernah tumbuh dari pengerdilan identitas asli.

penulis: Hj.Suri Syahriah Mahmud. S.E. M.M

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) menonaktifkan lima pejabat struktural Lapas Kelas IIA Cibinong, Bogor, Jawa Barat

    Lima Pejabat Lapas Cibinong Dinonaktifkan untuk Pemeriksaan

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Jakarta, (KABARISTANA.COM) — Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) menonaktifkan lima pejabat struktural Lapas Kelas IIA Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Penonaktifan dilakukan menyusul temuan Ombudsman Republik Indonesia di lapas tersebut. Lima pejabat yang dinonaktifkan terdiri atas Kepala Lapas (Kalapas), Kepala Pengamanan Lapas (KPLP), Kepala Seksi Pembinaan dan Pendidikan (Kasibinadik), Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban (Kasikamtib), serta […]

  • suap izin prodi IAI Rawa Aopa Sulawesi Tenggara

    Dugaan Suap Izin Prodi di IAI Rawa Aopa, Komersialisasi Pendidikan Terbongkar!!!

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 277
    • 0Komentar

    Jakarta, kabaristana.com – Dugaan praktik suap dalam pengurusan izin Program Studi (Prodi) Ekonomi Syariah di Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa, Sulawesi Tenggara, kini mencuat ke publik. Kasus ini tidak hanya menyangkut pelanggaran hukum, tetapi juga mengangkat kembali isu komersialisasi pendidikan. Koordinator PUSKOM Indonesia, Robby Anggara, mengungkap dugaan adanya “uang pelicin” dalam proses perizinan prodi. […]

  • prabowo ke jepang berangkat dari pangkalan halim perdanakusuma

    Prabowo Kunjungi Jepang, Temui Kaisar Naruhito dan PM Takaichi Bahas Kerja Sama Strategis

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 247
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) || Presiden Prabowo Subianto berangkat ke Jepang untuk menjalankan kunjungan resmi dan memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Ia lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (29/3/2026) pukul 10.35 WIB. Presiden berangkat bersama rombongan terbatas. Sejumlah pejabat melepas keberangkatan tersebut. Mereka antara lain Sufmi Dasco Ahmad, Prasetyo Hadi, Agus Subiyanto, dan […]

  • cedera achilles Hugo Ekitike saat Liverpool vs PSG di Anfield Liga Champions

    Cedera Achilles, Hugo Ekitike Dipastikan Absen dari Piala Dunia 2026

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 216
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) || Penyerang muda Hugo Ekitike absen dari Piala Dunia 2026 setelah mengalami cedera achilles saat membela Liverpool FC di Liga Champions. Pelatih timnas Prancis, Didier Deschamps, memastikan kondisi itu. Ia menilai cedera tersebut cukup parah dan membuat Ekitike harus menepi lama. Ekitike mengalami cedera saat Liverpool menghadapi Paris Saint-Germain pada leg kedua perempat […]

  • Dudung sebut Prabowo minta kasus penyekapan.

    Dudung sebut Prabowo minta kasus penyekapan diproses sesuai hukum

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 190
    • 0Komentar

    JAKARTA, (kabaristana.com) – Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian serius terhadap kasus penyekapan YTR di Kabupaten Bandung. Presiden meminta aparat menegakkan hukum secara tegas sesuai peraturan yang berlaku. Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman menyampaikan pesan tersebut setelah menjenguk korban di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Kamis. “Pesan beliau, diproses sesuai hukum yang […]

  • demo mahasiswa Ifishdeco di Bareskrim Polri

    Mahasiswa Demo di Bareskrim, Desak Usut Dugaan Pelanggaran Tambang PT Ifishdeco

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Jakarta, (Kabaristana.com) || Mahasiswa menggelar demo kasus Ifishdeco di kantor Bareskrim Polri dan Ditjen Minerba pada 10 April 2026. Mereka menuntut aparat mengusut dugaan pelanggaran tambang nikel di Kecamatan Tinanggea. Massa aksi menilai PT Ifishdeco beroperasi di luar wilayah izin usaha pertambangan (IUP). Mereka juga menyebut perusahaan memasuki lahan enklaf milik warga. Aktivitas itu merusak […]

expand_less