Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Membaca Dinamika Politik Sultra dari Percakapan Sehari-hari

Membaca Dinamika Politik Sultra dari Percakapan Sehari-hari

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
  • visibility 501
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, (kabaristana.com) – Sulawesi Tenggara hari ini tidak sedang baik-baik saja. Bukan karena daerah ini kekurangan sumber daya. Bukan pula karena Sultra miskin orang-orang cakap. Namun, kegelisahan itu muncul karena rasa asing yang tumbuh perlahan di tengah dinamika politiknya sendiri.

Kekuasaan terus berganti dari waktu ke waktu. Akan tetapi, para pemimpin yang muncul sering kali tidak lahir dari tanah ini. Akibatnya, sistem perlahan mendorong putra daerah ke pinggir. Sementara itu, pihak luar justru menentukan arah kebijakan, meski mereka tidak tumbuh bersama luka, sejarah, dan denyut kebudayaan Sulawesi Tenggara.

Percakapan Sederhana yang Membuka Luka

Keganjilan itu terasa nyata, bahkan dalam percakapan yang sangat sederhana. Ia tidak muncul di ruang sidang atau forum resmi, melainkan dalam obrolan sehari-hari ruang di mana orang sering menyampaikan pikiran jujur tanpa topeng.

“Ooo… dia suku Tolaki ya? Ooh… pantes.”

Sebagian orang mungkin tidak mengucapkan kalimat ini dengan niat mendiskriminasi. Namun, cara berpikir di baliknya tetap menempatkan identitas suku asli sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan, bahkan dipertanyakan. Padahal, suku Tolaki dan suku-suku asli lainnya membangun fondasi sejarah dan kebudayaan Sulawesi Tenggara.

Identitas yang Dipertanyakan

Sekilas, kalimat itu terdengar sepele. Namun sesungguhnya, kalimat tersebut membawa logika politik yang panjang. Logika itu menjadikan identitas suku asli sebagai penjelasan atas segalanya—atas keterbatasan, atas keraguan, bahkan atas anggapan ketidaklayakan memimpin.

Sebagai anak asli daerah, aku terdiam. Dalam diam, aku bertanya:
Memangnya kenapa jika Tolaki?
Sejak kapan menjadi pribumi Sulawesi Tenggara harus disampaikan dengan nada heran?

Kalimat itu memang tidak berteriak. Namun, ia menancap pelan dan meninggalkan luka, seperti duri yang dibiarkan tinggal di dada. Karena itu, pertanyaan tersebut terus berulang dalam benakku: sejak kapan identitas asli harus diberi alasan?

Keberagaman Bukan Masalahnya

Aku tidak menolak keberagaman. Darah Bugis mengalir dari ibuku. Sejak kecil, aku tumbuh dalam persaudaraan lintas suku. Oleh sebab itu, persoalan ini tidak terletak pada asal-usul.

Sebaliknya, masalah utama muncul dari cara kuasa bekerja. Ketika masyarakat terus memuliakan satu identitas, mereka justru memandang identitas lain dengan tanda tanya. Pada titik inilah ketimpangan itu hadir, meski sering luput dari kesadaran.

Diskriminasi yang Paling Rapi

Percakapan kecil itu sejatinya menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana politik membentuk cara berpikir masyarakat: siapa yang mereka anggap pantas memimpin dan siapa yang hanya mereka tempatkan sebagai pendukung.

Inilah bentuk diskriminasi yang paling rapi. Ia tidak hadir dalam aturan tertulis, tetapi hidup dalam ucapan. Ia tidak muncul di mimbar, namun mengendap dalam keputusan-keputusan penting.

Mengembalikan Kepercayaan pada Anak Daerah

Sulawesi Tenggara tidak membutuhkan belas kasihan dari luar. Sebaliknya, daerah ini hanya menuntut keadilan dari dirinya sendiri. Sultra membutuhkan kepercayaan pada anak-anak tanahnya sendiri. Lebih dari itu, masyarakat Sultra perlu mengakui bahwa putra daerah bukan sekadar pelengkap demokrasi.

Jika hari ini aku menuliskan kegelisahan ini, tujuannya bukan untuk memecah belah tapi Tulisan ini justru ingin mengingatkan,  politik yang sehat tidak pernah tumbuh dari pengerdilan identitas asli.

penulis: Hj.Suri Syahriah Mahmud. S.E. M.M

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kuasa hukum menunjukkan dokumen kasus vanessa cacat prosedur

    GASKAN: PROSES HUKUM VANESSA CACAT PROSEDUR, MIRIP PENCULIKAN! PUBLIK DESAK KAPOLRI MUNDUR

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 240
    • 2Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) – Gerakan Suara Keadilan Netizen (GASKAN) merilis surat terbuka yang ditandatangani Sekjen mereka, Andi Muhammad Rifaldy. Surat tersebut mereka kirim kepada Menteri Hukum dan HAM, Komisi III DPR RI, Komnas HAM, dan Kapolri. Melalui langkah ini, GASKAN secara tegas menyoroti dugaan pelanggaran KUHAP dan HAM dalam penanganan kasus Vanessa Tuhuteru oleh penyidik PPA […]

  • Mahasiswa Institut STIAMI berfoto di depan Istana Kepresidenan Jakarta dalam program “Istana untuk Anak Sekolah” untuk memperkenalkan proses pemerintahan dan nilai Pancasila.

    Kemensetneg Terima Kunjungan Mahasiswa Institut STIAMI dalam Program “Istana untuk Anak Sekolah”

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 332
    • 1Komentar

    Jakarta, (Kabaristana.com) kamis 23 April 2026  Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) menyambut 100 mahasiswa dari Institut STIAMI (Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia) pada Kamis, 23 April 2026. Presiden Prabowo Subianto menginisiasi program ini untuk memberikan pengalaman langsung kepada generasi muda tentang proses pemerintahan dan memperkenalkan nilai-nilai Pancasila. Program ini juga bertujuan memperkuat kesadaran kebangsaan di […]

  • inovasi KPI Plaju dalam budidaya ikan berkelanjutan oleh masyarakat

    Inovasi Lingkungan KPI RU III Plaju: Program Belida Musi Lestari Dorong Ekonomi dan Kelestarian

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 235
    • 2Komentar

    JAKARTA, Kabaristana.com – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU III Plaju menghadirkan program Belida Musi Lestari: Berdikari sebagai solusi terpadu bagi ekonomi dan lingkungan. Program ini melibatkan 307 masyarakat dari berbagai kelompok rentan dan berhasil meningkatkan penjualan ikan hingga 809% atau sekitar Rp760 juta. Selain itu, masyarakat mengolah 36 ton sampah makanan menjadi pakan ikan. […]

  • Ledakan bom Moskow terjadi di kawasan Stasiun Kereta Savyolovsky

    Ledakan Bom di Moskow Tewaskan Polisi, Aparat Buka Penyelidikan Teror

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 205
    • 0Komentar

    JAKARTA, kabaristana.com | Ledakan bom mengguncang kawasan Stasiun Kereta Savyolovsky, Moskow, pada Selasa (24/2/2026) dini hari. Insiden tersebut menewaskan satu anggota kepolisian dan melukai dua petugas lainnya yang tengah bertugas. Kementerian Dalam Negeri Rusia menjelaskan bahwa ledakan terjadi tak lama setelah tengah malam di alun-alun stasiun yang berada di wilayah utara ibu kota. Kawasan ini […]

  • manuskrip Alquran tertua berusia 1000 tahun di Arab Saudi

    Qur’an Berusia 1.000 Tahun Dipamerkan di Arab Saudi, Ungkap Warisan Ilmu Islam Kuno

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 231
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Kabaristana.com) || Manuskrip Alquran tertua menarik perhatian publik dalam pameran yang digelar Perpustakaan Umum Raja Abdulaziz di Arab Saudi. Naskah berusia sekitar 1.000 tahun ini menunjukkan perkembangan awal ilmu tafsir dan tradisi penulisan Alquran. Ulama klasik Abu Ubaidah Ma’mar Ibn Al-Muthanna menulis manuskrip berjudul Gharib Al-Qur’an. Ia menggunakan aksara Andalusia untuk teks utama. Ia […]

  • Bahlil menjelaskan harga patokan mineral kepada awak media di Jakarta

    Bahlil Jelaskan Rumus Baru Harga Patokan Mineral kepada China, Royalti Tambang Ditunda

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 112
    • 0Komentar

    JAKARTA, (kabaristana.com) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan rumus baru Harga Patokan Mineral (HPM) kepada pengusaha dan Kedutaan Besar China. Penjelasan itu dilakukan setelah investor China menyoroti perubahan regulasi sektor tambang di Indonesia. “Beberapa sudah komunikasi sama saya, dubesnya sudah ngobrol sama saya. Saya sudah memberikan penjelasan dengan baik,” kata […]

expand_less