Membaca Dinamika Politik Sultra dari Percakapan Sehari-hari
- account_circle Rahman
- calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
- visibility 385
- comment 0 komentar
- print Cetak

gambar ilustrasi/membaca dinamika politik sultra dari percakapan sehari-hari.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (kabaristana.com) – Sulawesi Tenggara hari ini tidak sedang baik-baik saja. Bukan karena daerah ini kekurangan sumber daya. Bukan pula karena Sultra miskin orang-orang cakap. Namun, kegelisahan itu muncul karena rasa asing yang tumbuh perlahan di tengah dinamika politiknya sendiri.
Kekuasaan terus berganti dari waktu ke waktu. Akan tetapi, para pemimpin yang muncul sering kali tidak lahir dari tanah ini. Akibatnya, sistem perlahan mendorong putra daerah ke pinggir. Sementara itu, pihak luar justru menentukan arah kebijakan, meski mereka tidak tumbuh bersama luka, sejarah, dan denyut kebudayaan Sulawesi Tenggara.
Percakapan Sederhana yang Membuka Luka
Keganjilan itu terasa nyata, bahkan dalam percakapan yang sangat sederhana. Ia tidak muncul di ruang sidang atau forum resmi, melainkan dalam obrolan sehari-hari ruang di mana orang sering menyampaikan pikiran jujur tanpa topeng.
“Ooo… dia suku Tolaki ya? Ooh… pantes.”
Sebagian orang mungkin tidak mengucapkan kalimat ini dengan niat mendiskriminasi. Namun, cara berpikir di baliknya tetap menempatkan identitas suku asli sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan, bahkan dipertanyakan. Padahal, suku Tolaki dan suku-suku asli lainnya membangun fondasi sejarah dan kebudayaan Sulawesi Tenggara.
Identitas yang Dipertanyakan
Sekilas, kalimat itu terdengar sepele. Namun sesungguhnya, kalimat tersebut membawa logika politik yang panjang. Logika itu menjadikan identitas suku asli sebagai penjelasan atas segalanya—atas keterbatasan, atas keraguan, bahkan atas anggapan ketidaklayakan memimpin.
Sebagai anak asli daerah, aku terdiam. Dalam diam, aku bertanya:
Memangnya kenapa jika Tolaki?
Sejak kapan menjadi pribumi Sulawesi Tenggara harus disampaikan dengan nada heran?
Kalimat itu memang tidak berteriak. Namun, ia menancap pelan dan meninggalkan luka, seperti duri yang dibiarkan tinggal di dada. Karena itu, pertanyaan tersebut terus berulang dalam benakku: sejak kapan identitas asli harus diberi alasan?
Keberagaman Bukan Masalahnya
Aku tidak menolak keberagaman. Darah Bugis mengalir dari ibuku. Sejak kecil, aku tumbuh dalam persaudaraan lintas suku. Oleh sebab itu, persoalan ini tidak terletak pada asal-usul.
Sebaliknya, masalah utama muncul dari cara kuasa bekerja. Ketika masyarakat terus memuliakan satu identitas, mereka justru memandang identitas lain dengan tanda tanya. Pada titik inilah ketimpangan itu hadir, meski sering luput dari kesadaran.
Diskriminasi yang Paling Rapi
Percakapan kecil itu sejatinya menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana politik membentuk cara berpikir masyarakat: siapa yang mereka anggap pantas memimpin dan siapa yang hanya mereka tempatkan sebagai pendukung.
Inilah bentuk diskriminasi yang paling rapi. Ia tidak hadir dalam aturan tertulis, tetapi hidup dalam ucapan. Ia tidak muncul di mimbar, namun mengendap dalam keputusan-keputusan penting.
Mengembalikan Kepercayaan pada Anak Daerah
Sulawesi Tenggara tidak membutuhkan belas kasihan dari luar. Sebaliknya, daerah ini hanya menuntut keadilan dari dirinya sendiri. Sultra membutuhkan kepercayaan pada anak-anak tanahnya sendiri. Lebih dari itu, masyarakat Sultra perlu mengakui bahwa putra daerah bukan sekadar pelengkap demokrasi.
Jika hari ini aku menuliskan kegelisahan ini, tujuannya bukan untuk memecah belah tapi Tulisan ini justru ingin mengingatkan, politik yang sehat tidak pernah tumbuh dari pengerdilan identitas asli.
penulis: Hj.Suri Syahriah Mahmud. S.E. M.M
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: https://kabaristana.com

Saat ini belum ada komentar